Kehobohan Nelayan Berlanjut: Setelah Paus dan Scalicus, Kini Ditemukan Kerapu Kertang
Bulukumba - Antusiasme nelayan di sekitar perairan Bira dan sekitarnya terus berlanjut setelah serangkaian penemuan ikan langka dalam beberapa hari terakhir. Setelah dua hari lalu masyarakat dikejutkan dengan kemunculan gerombolan paus, keesokan harinya ditemukan ikan langka jenis Scalicus. Kini, nelayan kembali dihebohkan dengan tertangkapnya seekor ikan kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus) dengan berat mencapai 140 kg di kedalaman 60 meter.
Ikan raksasa ini berhasil ditangkap oleh seorang nelayan bernama Arpangetos (Dg. Bonro') yang bermukim di Panrang Luhu, Desa Bira. Kerapu kertang tersebut dijual dengan harga Rp75.000 per kilogram, sehingga total hasil tangkapannya mencapai lebih dari Rp10 juta.
Fenomena Kemunculan Kerapu Kertang
Kemunculan berbagai jenis ikan besar dan langka di perairan perairan Bira dan sekitarnya termasuk Pulau Pasi (selayar) menimbulkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di wilayah ini. Kerapu kertang adalah salah satu spesies kerapu terbesar di dunia yang biasanya hidup di perairan tropis dan subtropis, terutama di terumbu karang dan perairan berlumpur pada kedalaman 10 hingga 100 meter.
Secara umum, ikan ini merupakan penghuni dasar laut dengan umur yang panjang, bisa mencapai lebih dari 50 tahun. Kemunculannya di wilayah ini bisa dikaitkan dengan beberapa faktor oseanografi seperti perubahan suhu laut, pola arus, serta ketersediaan makanan. Fenomena El Niño atau La Niña juga bisa mempengaruhi pergerakan ikan besar seperti kerapu kertang, paus, dan spesies langka lainnya.
Potensi dan Pangsa Pasar Kerapu Kertang
Kerapu kertang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar lokal maupun internasional. Ikan ini banyak diminati di pasar Asia, terutama di Tiongkok, Hong Kong, dan Singapura, karena dianggap sebagai ikan premium dengan daging yang lembut dan lezat. Di Indonesia sendiri, permintaan kerapu kertang cukup tinggi untuk konsumsi lokal dan ekspor.
Status Konservasi dan Prospek Bisnis
Kerapu kertang saat ini masuk dalam daftar spesies yang rentan (Vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Eksploitasi yang berlebihan dan degradasi habitat terumbu karang menjadi ancaman utama bagi populasi ikan ini. Oleh karena itu, upaya konservasi sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan populasinya.
Dalam konteks bisnis, budidaya kerapu kertang menjadi salah satu solusi potensial untuk mengurangi tekanan terhadap populasi alami sekaligus memenuhi permintaan pasar. Teknologi pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung sudah berkembang di beberapa daerah di Indonesia, dan dapat menjadi peluang bisnis yang menjanjikan bagi nelayan di Bulukumba. Namun memang untuk budidaya kerapu kertang jauh lebih sulit dibanding dengan budidaya kerapu lainnya karena waktu budidaya yang panjang dan jenis makanan yang mahal karena ikan ini berupa karnivora memerlukan pakan kualitas tinggi seperti ikan keci dan cumi-cumi sehingga meningkatkan biaya produksi budidaya.
Menjaga Habitat Kerapu Kertang
Untuk menjaga kelangsungan populasi ikan kerapu kertang, beberapa langkah dapat dilakukan, seperti:
- Pembatasan penangkapan ikan besar** dengan sistem kuota atau zona konservasi.
- Penerapan teknik penangkapan berkelanjutan, seperti menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.
- Restorasi dan perlindungan terumbu karang, sebagai habitat utama ikan ini. Saat ini sudah dilakukan dengan penebaran rumpon dasar.
- Pengembangan budidaya berbasis konservasi, untuk mengurangi eksploitasi dari alam.
Kemunculan kerapu kertang di perairan Pulau Pasi adalah fenomena yang menarik sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat nelayan dan pemerintah daerah untuk memperhatikan pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan. Dengan langkah-langkah yang tepat, ikan bernilai tinggi ini dapat menjadi salah satu komoditas unggulan yang tetap lestari di masa depan.
Comments
Post a Comment