Kemunculan Paus di Perairan Bira, Fenomena Langka yang Mengkonfirmasi Kesuksesan Rumpon
Bira, 24 Februari 2025 – Sekelompok paus berjumlah enam ekor terlihat di perairan Desa Bira pada Senin pagi sekitar pukul 06.00 WITA. Mamalia laut yang diperkirakan memiliki panjang sekitar 10 meter ini muncul secara bergerombol, namun sayangnya, kemunculan mereka berlangsung cukup singkat sehingga tidak sempat terdokumentasikan oleh nelayan setempat.
Menurut keterangan Bapak Adi, anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) Doang Lobster, kemunculan paus ini merupakan kejadian langka yang terakhir kali terlihat sekitar tujuh tahun lalu. “Selama saya melaut di wilayah ini, baru kali ini lagi melihat paus sebanyak ini. Ini menandakan bahwa perairan kita masih kaya akan keanekaragaman hayati,” ujar Adi.
Paus, Satwa Dilindungi dan Perilakunya
Sebagian besar spesies paus masuk dalam daftar satwa yang dilindungi berdasarkan hukum nasional dan internasional, termasuk dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Langka (CITES) serta Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Paus yang sering terlihat di perairan Indonesia biasanya dari jenis paus sperma (*Physeter macrocephalus*), paus bungkuk (*Megaptera novaeangliae*), atau paus pilot (*Globicephala macrorhynchus*), yang semuanya memiliki status perlindungan
Paus dikenal sebagai mamalia laut yang cerdas dan memiliki pola migrasi yang jauh. Mereka sering muncul di perairan tropis untuk mencari makan atau berkembang biak. Kehadiran mereka di suatu wilayah seringkali menunjukkan ekosistem laut yang sehat, dengan ketersediaan sumber makanan yang cukup seperti ikan kecil dan cumi-cumi.
Hubungan dengan Program Pengadaan Rumpon
Dinas Perikanan telah melakukan pengadaan rumpon secara masif di perairan Bulukumba, terutama di wilayah Bonto Bahari pada tahun 2024. Sebanyak 20 unit rumpon layang telah dipasang di perairan Bira, sementara di Liukang Loe terdapat 42 unit rumpon dasar dan di Tanah Lemo 20 unit rumpon dasar.
Rumpon-rumpon ini telah membantu memulihkan ekosistem laut dengan meningkatkan populasi ikan kecil dan cumi-cumi, yang merupakan sumber makanan utama bagi paus. “Pelan tapi pasti, efek dari rumpon ini akan terasa. Baik diakui maupun tidak, alam akan merehabilitasi dirinya sendiri jika kita membantu memulihkannya,” tegas Yusli.
Cara Berinteraksi Jika Bertemu Paus
Kemunculan paus di perairan dekat aktivitas nelayan atau wisata bahari memerlukan kewaspadaan dan etika tertentu dalam berinteraksi, seperti:
- Jaga Jarak – Tidak mendekati paus dalam radius kurang dari 50 meter untuk menghindari stres atau gangguan terhadap satwa tersebut.
- Jangan Menghalangi Jalur Paus – Biarkan paus berenang dengan bebas tanpa intervensi kapal atau manusia.
- Hindari Kebisingan Berlebihan – Mesin kapal yang bising bisa mengganggu navigasi paus yang sangat bergantung pada sonar.
- Tidak Memberi Makan atau Menyentuh – Hal ini dapat mengganggu pola makan alami paus dan menimbulkan risiko bagi manusia.
Potensi Ekonomi dari Kemunculan Paus
Sebagai satwa karismatik, paus memiliki potensi besar untuk pengembangan wisata bahari berbasis ekowisata. Negara seperti Australia, Selandia Baru, dan beberapa wilayah di Indonesia seperti Bali dan Nusa Tenggara telah berhasil mengembangkan wisata pengamatan paus (whale watching) yang mendatangkan keuntungan ekonomi sekaligus meningkatkan kesadaran konservasi.
Perairan Bira yang dikenal dengan keindahan lautnya dapat memanfaatkan fenomena ini untuk mengembangkan wisata edukatif bagi pengunjung yang ingin menyaksikan satwa langka ini. Dengan pengelolaan yang berkelanjutan, keberadaan paus tidak hanya menjadi daya tarik alam tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.
Kemunculan paus di perairan Desa Bira menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut. Jika dikelola dengan baik, fenomena ini dapat menjadi peluang bagi nelayan dan pelaku wisata dalam mengembangkan potensi bahari yang berkelanjutan.
Comments
Post a Comment